Berbagi Pengetahuan dan Wawasan Setiap Hari

Iklan Header (Auto Ads Ready)

Pantai Legon Pari: Surga Tersembunyi yang Bikin Betah Berlama-lama

Pertama kali saya mendengar nama Pantai Legon Pari, jujur aja, saya sempat mikir, “Ini pantai di mana sih? Kok namanya jarang terdengar.” Ternyata lokasinya ada di Sawarna, Lebak, Banten. Awalnya saya cuma ikut-ikutan teman yang ngajak jalan. Niatnya ya sekadar refreshing, kabur sebentar dari rutinitas. Tapi serius, begitu sampai, saya merasa seperti nemu spot rahasia yang jarang dijamah wisatawan.

Pantai ini nggak seramai Pantai Sawarna atau Karang Taraje. Malah, sepi dan damai banget. Pasirnya halus, warnanya kecokelatan, dan ombaknya lebih tenang dibanding pantai-pantai tetangga. Saya sempat coba jalan nyeker di bibir pantai pagi hari, dinginnya air laut bercampur udara sejuk bikin saya pengen duduk lama sambil ngopi sachet. Ya, receh tapi memorable.

Pantai Legon Pari

Hal yang paling bikin saya jatuh cinta itu suasananya. Kalau di pantai populer kita sering rebutan spot foto, di Legon Pari rasanya kayak punya pantai pribadi. Saya sempat coba rebahan di tikar sederhana sambil lihat langit biru, lalu tiba-tiba ketiduran karena terlalu nyaman. Eh, pas bangun, matahari udah condong, dan suasananya jadi lebih magis. Cahaya jingga kena ke ombak kecil—saya masih ingat jelas pemandangan itu.

Kalau soal tips, saya belajar beberapa hal dari pengalaman ke sana. Pertama, bawalah bekal makanan dan minuman sendiri. Di sekitar pantai ada warung, tapi nggak selalu buka dan pilihannya terbatas. Saya pernah kehabisan air minum gara-gara warung tutup lebih cepat, dan rasanya lumayan bikin repot karena terpaksa jalan agak jauh. Jadi, mending siap-siap sebelum berangkat.

Kedua, kalau niat camping, Pantai Legon Pari cocok banget. Banyak orang yang bawa tenda dan bikin api unggun malam hari. Tapi jangan lupa bawa kantong sampah sendiri, karena sayang banget kalau pantai seindah ini kotor gara-gara sampah plastik. Saya pernah lihat sisa botol minuman berserakan, jujur agak kesel sih.

Akses ke pantai ini memang agak tricky. Jalanannya masih lumayan menantang, beberapa spot sempit dan berbatu. Mobil bisa masuk, tapi harus hati-hati. Saya dulu pakai motor, dan sempat tergelincir sedikit waktu jalan basah habis hujan. Untung nggak jatuh. Jadi kalau bawa kendaraan, pastikan kondisi prima dan jangan ngebut.

Satu hal yang nggak boleh dilewatkan adalah sunrise di Pantai Legon Pari. Saya pernah nekat bangun jam 4 pagi, terus jalan kaki ke bibir pantai. Saat matahari pelan-pelan muncul di horizon, warnanya bener-bener cantik. Rasanya kayak dapet hadiah besar setelah menempuh perjalanan panjang.

Itinerary Sehari di Pantai Legon Pari

Buat yang cuma punya waktu sehari, tenang aja—Pantai Legon Pari masih bisa banget dinikmati tanpa harus nginap. Saya pernah coba one-day trip, dan meskipun agak capek, pengalaman yang saya dapat benar-benar worth it. Nah, ini contoh itinerary yang bisa kamu ikuti:

04.00 – 05.00 WIB: Berangkat dari penginapan atau titik awal
Kalau kamu dari Jakarta atau Bogor, memang idealnya berangkat subuh banget biar bisa sampai Sawarna menjelang siang. Tapi kalau kamu udah nginap di sekitar Sawarna, lebih asik lagi karena bisa langsung meluncur ke Legon Pari dalam waktu sekitar 30–40 menit.

06.30 – 07.00 WIB: Tiba di kawasan Pantai Sawarna
Biasanya saya mampir dulu buat sarapan. Ada beberapa warung yang jual nasi uduk, mie rebus, atau kopi hitam. Percaya deh, sarapan di udara pantai itu beda rasanya—lebih segar dan bikin semangat.

07.30 – 08.30 WIB: Perjalanan ke Pantai Legon Pari
Akses jalannya masih agak menantang, jadi siapkan tenaga. Kalau pakai motor, jangan lupa cek rem dan bensin. Di sepanjang jalan kamu bisa lihat pemandangan hijau perbukitan dan sesekali mendengar suara ombak dari kejauhan. Itu bikin capek jadi terasa menyenangkan.

09.00 – 11.30 WIB: Main di pantai & foto-foto
Setibanya di Legon Pari, jangan langsung duduk malas-malasan. Coba jalan nyeker di bibir pantai, rasain ombak kecil yang nyapu kaki. Kalau bawa kamera, ini saat terbaik buat hunting foto karena cahaya matahari belum terlalu terik. Saya pribadi suka duduk di batu karang dan ngejar angle low shot dengan background ombak.

11.30 – 13.00 WIB: Makan siang & istirahat
Kalau bawa bekal, ini saat yang pas buat gelar tikar. Tapi kalau nggak sempat bawa, ada warung lokal yang jual makanan sederhana kayak ikan bakar, mie instan, atau gorengan. Jangan berekspektasi restoran mewah ya—justru kesederhanaannya yang bikin makanannya terasa nikmat.

13.00 – 15.30 WIB: Santai atau coba camping singkat
Banyak pengunjung yang memilih rebahan, tidur-tiduran di hammock, atau sekadar baca buku sambil dengar suara laut. Kalau saya, biasanya main pasir sama teman, bikin istana pasir ala-ala, meski akhirnya kalah sama ombak. Seru aja sih.

15.30 – 17.30 WIB: Nikmati sunset
Inilah highlight yang nggak boleh dilewatkan. Sunset di Pantai Legon Pari punya vibe yang beda. Langitnya bisa berubah dari biru ke oranye lalu ungu. Kalau beruntung, kamu bakal lihat siluet nelayan yang lagi narik jaring—moment ini sering bikin saya refleksi tentang hidup.

18.00 – 19.00 WIB: Persiapan pulang
Kalau nggak camping, saatnya siap-siap balik. Pastikan sampah dibawa kembali, karena pantai ini masih alami. Jangan jadi salah satu orang yang ninggalin jejak negatif.


PETA PERJALANAN

peta perjalanan