Bukit Kelam: Monolit Raksasa di Sintang yang Bikin Kagum
Saya masih ingat pertama kali mendengar nama Bukit Kelam. Jujur saja, saya kira itu cuma semacam bukit kecil biasa di Kalimantan Barat. Tapi ternyata, setelah saya baca-baca dan akhirnya sempat mampir waktu perjalanan ke Sintang, wajar kalau tempat ini dijuluki salah satu monolit terbesar di dunia. Bayangin aja, sebongkah batu raksasa yang menjulang setinggi sekitar 900 meter di atas permukaan laut, berdiri sendirian kayak dinding alam. Rasanya kayak ngeliat “Ayres Rock” versi Indonesia.

Waktu naik ke atas, saya sempat nyesel juga karena meremehkan. Jalurnya lumayan bikin ngos-ngosan, apalagi kalau bawa bekal seadanya. Saya pernah kehabisan air di tengah jalan—dan itu bikin saya belajar banget: jangan pernah remehkan trek alam. Jadi kalau ada yang mau naik, tips sederhana tapi penting: bawa cukup air minum, camilan energi (roti atau coklat), dan pakai sepatu yang benar-benar nyaman. Jangan sok gaya pakai sandal jepit, itu bikin kaki gampang lecet.
Hal lain yang bikin saya terkesan di Bukit Kelam adalah pemandangannya. Dari puncak, terlihat Sungai Kapuas dan Sungai Melawi yang saling berkelok di bawah. Waktu itu cuacanya cerah, jadi warna hijau hutan tropis benar-benar kontras dengan langit biru. Itu momen di mana saya mikir, “kok bisa ya ada batu segede ini nongol di tengah-tengah?” Ada juga legenda lokal yang bilang batu ini dulunya dilempar oleh raksasa bernama Bujang Beji, tapi meleset dan jatuh di situ. Nah, cerita-cerita mitos kayak gini selalu bikin perjalanan jadi makin hidup, nggak cuma soal pemandangan.
Kalau ngomongin sisi praktisnya, Bukit Kelam sudah dikelola sebagai kawasan wisata, jadi ada pintu masuk resmi dengan tiket yang lumayan terjangkau. Fasilitas dasar seperti area parkir dan tempat duduk ada, tapi jangan berharap terlalu modern. Jadi persiapkan diri buat pengalaman yang lebih “alami”. Dan oh ya, di kaki bukit sering ada event lokal, seperti festival atau kegiatan adat. Kalau beruntung, kita bisa sekalian belajar tentang budaya Dayak setempat.
Ada satu hal yang saya pelajari dari kunjungan ini: kadang kita terlalu fokus mencari destinasi wisata “mainstream” kayak Bali atau Bandung, padahal daerah lain punya hidden gem yang nggak kalah keren. Bukit Kelam contohnya, jarang disebut-sebut di brosur wisata nasional, tapi buat saya jauh lebih berkesan daripada tempat ramai yang penuh turis.
Jadi kalau kamu lagi di Kalimantan Barat atau memang berencana ke Sintang, sempatkan waktu sehari buat eksplorasi Bukit Kelam. Naiklah pagi-pagi supaya nggak terlalu panas, bawa perlengkapan sederhana, dan nikmati setiap langkahnya. Percaya deh, meskipun capek, rasa puasnya luar biasa. Dan ya, foto dari puncaknya? Dijamin bikin feed Instagram kamu keliatan beda.
.jpg)
Tips Praktis Sebelum Mendaki Bukit Kelam
2. Perlengkapan yang wajib dibawa
-
Air minum minimal 1–2 liter. Jangan remehkan kebutuhan cairan, trek bisa bikin haus banget.
-
Sepatu trekking atau olahraga. Jalannya berbatu dan menanjak, sandal jepit gampang bikin tergelincir.
-
Topi atau kacamata hitam. Matahari di puncak cukup menyengat.
-
Camilan energi. Roti, biskuit, atau coklat buat tambahan tenaga.
-
Jas hujan tipis. Cuaca di Kalimantan kadang berubah cepat, jadi lebih baik siap.
FAQ seputar Bukit Kelam