Naik Klotok di Sungai Sekonyer: Pengalaman Seru Menyusuri Hutan Kalimantan
Sungai Sekonyer - Kalau ada tempat yang bikin saya jatuh cinta sama suasana alam, salah satunya ya Sungai Sekonyer di Kalimantan Tengah. Pertama kali dengar namanya, jujur saya kira cuma sungai biasa. Tapi ternyata, pas udah di sana, rasanya kayak masuk ke dunia lain. Airnya yang kecokelatan bukan berarti kotor, malah jadi ciri khas karena dipengaruhi akar pohon gambut. Jadi kalau ada yang bilang sungainya “teh tarik raksasa”, saya bisa relate banget.
Saya naik klotok (kapal kayu tradisional) waktu itu, dan serius… pengalaman duduk di dek sambil ngopi, dikelilingi suara alam, itu priceless. Kadang suara burung enggang lewat, kadang monyet ekor panjang lompat dari dahan ke dahan. Dan jangan kaget, kalau beruntung, kita bisa lihat orangutan liar nongol di pinggir hutan. Momen kayak gini bikin saya sadar kalau ekosistem di Sungai Sekonyer itu bener-bener rapuh sekaligus berharga.

Ada satu kejadian kocak juga. Waktu malam, saya kira bakal gelap gulita. Eh ternyata langit penuh bintang, refleksi di sungai bikin suasananya kayak lagi di film romantis. Cuma ya, jangan terlalu asik bengong… karena nyamuk juga nggak kenal ampun. Saya lupa bawa lotion anti-nyamuk, alhasil jadi santapan empuk malam itu. Dari situ saya belajar: ke Sungai Sekonyer tanpa repellent itu kesalahan pemula.
Buat yang pengen trip ke sini, tips saya simpel tapi penting. Pertama, pilih operator klotok yang terpercaya. Harga memang bervariasi, tapi biasanya sekitar 2–3 juta rupiah per kapal per malam (isi 4–6 orang, jadi bisa patungan). Kedua, bawa power bank gede, karena di kapal listriknya terbatas. Ketiga, jangan buang sampah sembarangan. Percaya deh, sekali lihat orangutan makan di habitat aslinya, kita bakal malu kalau sampai merusak lingkungannya.
Hal lain yang bikin Sungai Sekonyer menarik itu lokasinya. Sungai ini jadi akses utama menuju Taman Nasional Tanjung Puting. Jadi kalau orang datang ke Kalimantan Tengah buat lihat orangutan, hampir pasti mereka akan lewat sungai ini. Wajar banget kalau Sungai Sekonyer makin populer di kalangan wisatawan, baik lokal maupun internasional.
Kadang saya mikir, tempat kayak gini tuh gampang banget terlupakan sama orang kota. Padahal, hutan gambut dan satwa liar di sekitarnya punya peran besar buat iklim global. Jadi bukan cuma tentang liburan seru, tapi juga soal rasa tanggung jawab buat ikut jaga. Saya sendiri pulang dengan perasaan campur aduk: bahagia bisa lihat keindahan, tapi juga agak khawatir kalau suatu saat sungai ini rusak gara-gara ulah manusia.
Naik klotok di Sungai Sekonyer itu pengalaman yang nggak gampang dilupain. Dari jauh, kapal kayu ini mungkin kelihatan sederhana, tapi begitu naik… wah, vibes-nya beda. Klotok punya dek atas terbuka, biasanya dilapisi tikar atau kasur tipis buat duduk santai. Waktu itu saya duduk di pojokan sambil bawa kopi sachet sendiri, rasanya kayak punya rumah terapung di tengah hutan Kalimantan.
Perjalanan dimulai dari dermaga Kumai. Begitu mesin klotok dinyalain, bunyinya khas banget, “tok-tok-tok” berirama—dari situlah asal nama klotok. Awalnya saya agak terganggu sama suara mesinnya, tapi lama-lama malah jadi latar musik alami sepanjang perjalanan. Ada momen hening, cuma suara mesin dan percikan air sungai, yang bikin kepala auto tenang.
Di sisi kiri kanan sungai, pemandangannya luar biasa. Hutan gambut lebat, kadang terlihat bekantan dengan hidung panjangnya duduk santai di dahan pohon. Saya sempat salah kira, dikira orangutan, padahal beda jauh. Nah, ini salah satu hal yang bikin saya sadar: pengetahuan satwa liar itu penting sebelum trip ke sini, biar nggak malu-maluin kayak saya.
Highlight paling keren tentu waktu orangutan muncul di tepian sungai. Pemandu bilang itu jarang-jarang bisa sejelas itu. Orangutan betina dengan bayinya turun ke cabang rendah, seperti sengaja nunjukin diri. Satu kapal langsung heboh, kamera semua terangkat. Saya sendiri sampai gemetaran saking excited. Rasanya kayak disapa langsung oleh hutan.
Tidur di klotok juga bagian yang memorable. Malam itu, kasur digelar di dek atas dengan kelambu besar buat ngusir nyamuk. Anginnya sepoi-sepoi, suara jangkrik dan air sungai bikin suasana syahdu. Jujur, saya kira bakal susah tidur karena suara mesin, tapi ternyata mesin dimatikan saat kapal sandar. Jadi malah tidur nyenyak di bawah langit penuh bintang.
Tips praktis buat kamu yang mau naik klotok di Sungai Sekonyer:
-
Bawa cemilan sendiri – makanan di kapal biasanya disediakan, tapi tetap enak punya camilan favorit.
-
Gunakan dry bag – kelembaban di sungai tinggi, gadget gampang rusak kalau nggak dilindungi.
-
Jangan lupa senter/headlamp – kalau malam mau ke toilet kapal, gelap banget.
-
Patungan rombongan – harga sewa klotok sekitar 2–3 juta per malam, jadi makin murah kalau rame-rame.
Yang paling saya syukuri dari trip ini bukan cuma pemandangannya, tapi rasa kedekatan sama alam. Di atas klotok, tanpa sinyal kuat, tanpa notifikasi yang ganggu, saya bisa benar-benar menikmati momen. Rasanya kayak di-reset ulang: dari kepala penuh kerjaan, jadi tenang, fokus sama suara alam.
Harga Sewa Klotok di Sungai Sekonyer: Panduan Lengkap untuk Wisatawan
.jpg)
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul sebelum ke Sungai Sekonyer adalah: “Berapa sih harga sewa klotok?” Waktu saya pertama kali cari info, jujur agak bingung. Ada yang bilang 1 juta, ada juga yang bilang bisa sampai 5 juta. Setelah akhirnya saya ke sana sendiri, baru paham kenapa harganya bisa beda-beda.
Rata-rata, harga sewa klotok di Sungai Sekonyer berkisar Rp2.000.000 – Rp3.500.000 per malam untuk satu kapal. Klotok biasanya bisa menampung 4–6 orang, jadi kalau datang bareng teman atau keluarga, biaya bisa dibagi rata dan jatuhnya jauh lebih murah. Misalnya saya waktu itu pergi berempat, total biaya sewa Rp2,5 juta per malam. Kalau dibagi empat, masing-masing cuma sekitar Rp625 ribu. Dengan fasilitas makan, tidur, dan transportasi, menurut saya itu cukup terjangkau.
Harga juga dipengaruhi beberapa faktor:
-
Kapasitas kapal – ada klotok kecil (2–4 orang), sedang (6–8 orang), hingga besar (10–12 orang). Semakin besar, semakin mahal.
-
Durasi sewa – paket biasanya 2 hari 1 malam atau 3 hari 2 malam. Makin lama tentu makin tinggi biayanya.
-
Fasilitas – beberapa operator kasih ekstra layanan kayak kasur empuk, menu makanan spesial, atau bahkan guide berbahasa Inggris untuk turis asing.
-
Musim kunjungan – kalau lagi high season (Juli–Agustus), harga bisa naik 10–20%.
Saya sempat bandingin beberapa operator. Ada yang paket 3 hari 2 malam harganya Rp6 juta untuk satu klotok isi 6 orang. Itu udah termasuk semua: makan 3 kali sehari, minuman, snack, tiket masuk Taman Nasional Tanjung Puting, dan guide. Kalau dihitung per orang, sekitar Rp1 juta lebih sedikit. Dengan pengalaman yang didapet, menurut saya masih masuk akal banget.
Tips buat cari harga sewa klotok yang pas:
-
Booking jauh-jauh hari, minimal 1–2 bulan sebelum datang, apalagi kalau musim liburan.
-
Tanya detail fasilitas: apakah sudah termasuk tiket masuk taman nasional, makan, dan guide. Jangan cuma lihat harga, tapi juga value-nya.
-
Patungan bareng teman: ini cara paling hemat, karena harga sewa per kapal, bukan per orang.
-
Cek review online: TripAdvisor, blog traveler, atau grup Facebook sering jadi sumber info jujur soal operator mana yang terpercaya.
Oh iya, ada juga pilihan open trip buat yang datang sendirian atau berdua. Biasanya harga sekitar Rp1,5 juta per orang untuk 3 hari 2 malam. Lebih murah, tapi tentu harus berbagi kapal sama orang lain yang mungkin baru kenal. Saya pribadi lebih suka private klotok biar lebih bebas, tapi open trip bisa jadi solusi hemat kalau budget terbatas.
Jadi kesimpulannya, harga sewa klotok memang bervariasi, tapi kalau pintar atur strategi, nggak harus mahal. Dengan Rp600–700 ribu per orang per malam (kalau rame-rame), kamu udah bisa dapat pengalaman tidur di kapal, menyusuri Sungai Sekonyer, dan lihat orangutan di habitat aslinya. Jauh lebih berharga daripada ngabisin uang buat nongkrong di kafe fancy di kota.
Ekosistem Sungai Sekonyer: Dari Hutan Gambut hingga Satwa Liar
Sungai Sekonyer bukan cuma jalur wisata ke Taman Nasional Tanjung Puting, tapi juga rumah bagi ekosistem yang super kaya. Waktu saya pertama kali menyusuri sungai ini dengan klotok, jujur saya nggak nyangka kalau satu sungai bisa punya pengaruh sebesar itu terhadap kehidupan hutan di sekitarnya.
Airnya berwarna kecokelatan pekat, mirip teh tarik. Itu bukan karena kotor, tapi akibat akar pohon gambut yang melepas tanin ke dalam air. Awalnya saya kira agak serem sih, kayak ada buaya ngintip dari bawah (dan memang ada buaya beneran di beberapa area), tapi justru air gambut ini berperan penting menjaga keseimbangan hutan. Tanpa gambut, hutan sekitar bisa kering, gampang kebakar, dan satwa liar bakal kehilangan tempat tinggalnya.
Di sepanjang aliran sungai, kita bisa melihat vegetasi yang luar biasa. Ada nipah, pandan, sampai pohon besar yang jadi rumah burung enggang dan bekantan. Saya pernah lihat bekantan loncat ke pohon yang hampir tumbang, bikin satu kapal ketawa karena gayanya kaku tapi gemesin. Satwa-satwa ini bukan sekadar tontonan, tapi indikator kalau ekosistem Sungai Sekonyer masih sehat.
Tapi yang paling bikin merinding tentu momen ketemu orangutan liar. Bukan di pusat rehabilitasi, tapi benar-benar di hutan. Ada jantan besar yang disebut alpha male, duduk di dahan sambil ngeliatin kapal. Pemandu bilang, kalau orangutan masih sering muncul di tepian sungai, artinya hutan masih cukup menyediakan makanan. Itu tanda baik, meski tetap ada kekhawatiran soal deforestasi.
Ngomongin ekosistem, jangan lupa juga tentang hewan kecil. Malam hari, kalau lampu kapal dinyalakan, ribuan serangga langsung datang. Buat sebagian orang mungkin nyebelin, tapi saya justru merasa itu bagian dari “teater alam” yang jarang bisa dilihat di kota. Serangga kecil ini jadi sumber makanan buat kelelawar, burung malam, dan rantai makanan pun berjalan.
Sayangnya, ekosistem Sungai Sekonyer juga lagi di ujung tanduk. Pembukaan lahan sawit dan tambang pernah jadi ancaman serius. Saya dengar cerita dari pemandu, katanya dulu pernah ada bagian sungai yang mulai keruh karena aktivitas di hulu. Kalau itu dibiarkan, bisa-bisa Sungai Sekonyer kehilangan daya tarik sekaligus fungsinya sebagai rumah bagi ratusan spesies.
Dari pengalaman itu, saya jadi sadar: wisata ke Sungai Sekonyer nggak cuma soal liburan. Kita ikut “nyumbang” buat ekosistem ini dengan cara sederhana: nggak buang sampah sembarangan, pakai operator tur yang peduli lingkungan, dan dukung program konservasi. Karena kalau ekosistem Sungai Sekonyer rusak, bukan cuma orangutan yang hilang, tapi juga masa depan wisata alam di Kalimantan Tengah.
Jadi, kalau kamu lagi di atas klotok, jangan cuma sibuk foto-foto. Luangkan waktu duduk diam, lihat detail sekeliling: suara serangga, cipratan air, monyet yang tiba-tiba muncul di dahan, bahkan aroma hutan yang khas. Itu semua puzzle kecil yang bikin ekosistem Sungai Sekonyer jadi luar biasa.